Cara mencegah kekurangan gizi kronis pada anak

Penyakit stunting merupakan penyakit kronis kekurangan gizi pada anak. Yang berdampak anak miliki postur tubuh yang pendek. Nah bagi anda yang berencana ingin memiliki bayi kembar namun takut jika anaknya terjangkit penyakit stunting ikuti tips berikut ini.

Cara hamil bayi kembar tanpa takut anak terlahir pendek. Anda bisa mencegahnya dengan kehadiran inovasi pangan lokal untuk pencegahan Stunting.Hal itu disampaikan Deputi Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Tri Nuke Pudjiastuti.

“Sebenarnya kami belum melakukan penelitian khusus soal stunting. Kami baru penelitian tentang inovasi pangan lokal. Ternyata inovasi pangan secara tidak langsung mencegah stunting,” jelas Nuke di sela-sela acara Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) XI di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (3/7/2018).

Sagu, kata Nuke, yang termasuk pangan lokal orang Papua bisa dikreasikan dalam bentuk makanan yang lebih menarik. Ada juga trik untuk menggalakkan orang Papua mencintai makan sagu.

Saksikan juga video menarik berikut:

Fortifikasi makanan

kurang gizi 2018 Liputan6.com

Penambahan zat gizi mikro nutrien pada pangan atau yang dikenal dengan sebutan fortifikasi pangan juga solusi efektif mencegah stunting. Contoh fortifikasi yakni penambahan vitamin A pada minyak goreng.

“Fortifikasi pangan membuat makanan jadi lebih sehat dan bergizi,” Nuke menambahkan.

Fortifikasi pangan pun tergantung pangan lokal yang ada di daerah masing-masing. Yang paling utama, kandungan gizi pada pangan akan bermanfaat diserap tubuh. Ketika gizi terpenuhi, anak pun tidak stunting (pendek).

Sebaiknya jika anda tak ingin anak anda terlahir dengan penyakit stunting cegahlah sejak dari kandungan. Dengan cara memperhatikan keseimbangan gizi yang dikonsumsi ibu. Jangan sampai sang ibu kekurangan nutrisi yang mengakibatkan stunting pada anaknya.

Awas, diabetes incar wanita yang sering lembur

Baru baru ini hasil penelitian menemukan bahwa wanita yang sering kerja lembur rentan terkena diabetes tipe2. Kerja lembur juga dapat meningkatkan stress.

Ahli epidemologi dari Institute for Work and Health Toronto Kanada, Mahee Gilbert-Ouimet bersama koleganya, menganalisis data 7.000 pekerja di Kanada. Mereka semua sudah bekerja lebih dari 12 tahun lalu dibagi antara yang sering lembur dan tidak.

Setelah dianalisis, wanita yang bekerja lebih dari 45 jam per minggu risiko terkena diabetes tipe 2 meningkat hingga 51 persen dibanding yang bekerja 35-40 jam per minggu.

Namun, peneliti tidak menemukan efek ini pada pria seperti mengutip Time, Rabu (4/7/2018). “Saya kaget melihat tidak adanya efek lembur kerja pada pria,” kata Gilbert-Ouimet.

Alasan diabetes tipe 2 rentan serang wanita sering lembur

lembur 2018 Liputan6.com

Ada beberapa kemungkinan yang membuat wanita yang sering lembur rentan kena diabetes. Salah satunya karena di luar bekerja, masih ada aktivitas rumah tangga yang harus dikerjakan termasuk mengasuh anak.

Salah satu data yang didapat dari riset ini, risiko paling besar terkena diabetes pada wanita yang bekerja lebih dari 45 jam seminggu dan memiliki anak di bawah 12 tahun.

Aspek lain, saat bekerja pria cenderung tak cuma duduk tapi juga berjalan. Sementara kebanyakan wanita menghabiskan waktu lebih sering duduk saat bekerja. Ketika aktivitas fisik rendah hal tersebut meningkatkan risiko terkena diabetes

Nah, jika muncul tanda- tanda tubuh sedang sakit akibat sering lembur janganlah diabaikan. Karena dapat berdampak lebih buruk untuk kedepannya. Serta kenalilah tanda tanda gejala penyakit diabetes. Dan sebaiknya hindarilah dengan cara menjaga pola hidup sehat.

Diabetes memiliki banyak tipe, ada juga diabetes tipe3. Nah jika membahas diabetes tipe3, penyakit ini bisa sebabkan gangguan fungsi otak hingga bahkan kehilangan memori. Sedangkan cara mengobatinya hampir sama dengan cara mengobati diabetes tipe lainnya.

Bahaya Gula di Balik Kopi

Menjamurnya kedai kopi ditambah dengan jasa pengiriman makanan/minuman membuat seseorang jadi lebih mudah menyeruput kopi kesukaan. Ini jelas memengaruhi gaya hidup. Bisa jadi, sebagian dari kita minum kopi kesukaan tiap hari atau setidaknya dua hari sekali.

Walau kini jadi mudah mendapatkan minuman kopi kesukaan, dokter spesialis penyakit dalam Siloam Hospital, Mulyani Anny Suryani Gultom, mengingatkan risiko konsumsi gula berlebihan yang terkandung di dalamnya.

“Dengan intensitas konsumsi kopi yang tinggi sayangnya masih banyak masyarakat yang belum sadar membatasi kandungan gula di minuman kopi mereka, sehingga membuat mereka berisiko tinggi terkena diabetes,” kata Mulyani dalam peluncuran Tropicana Slim White Coffee di Jakarta beberapa saat lalu.

Ketika sudah terkena diabetes, kata Mulyani, tubuh jadi tidak dapat mengatur metabolisme gula dengan baik. Hal ini menyebabkan terganggunya fungsi organ tubuh lain. Jika tidak dikendalikan, bisa berujung pada berbagai komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, amputasi, bahkan kebutaan.

Mengingat belum ada obat untuk mengatasi diabetes, Mulyani mengingatkan untuk membatasi asupan gula. Kementerian Kesehatan RI menyarankan konsumsi gula yakni sekitar 50 gram (tiga sendok makan) per hari.

“Sehingga memang pencegahan sedini mungkin menjadi salah satu opsi terbaik, salah satunya dengan membatasi asupan gula yang masuk ke dalam tubuh sehari-hari, termasuk dari minuman kopi yang dikonsumsi,”

Jika, asupan gula pada kopi dibatasi atau tidak ditambahkan, bisa mendapatkan manfaat dari minuman yang mengandung kafein itu. Berdasarkan tiga sumber terpercaya yaitu Diabetes Care (2014), Clinical Nutrition (2016), American Journal of Epidemiology (2014) mengonsumsi kopi secara teratur terkait pengurangan risiko diabetes (10 persen) dan kemungkinan meninggal akibat penyakit jantung (21 persen).

“Namun dianjurkan konsumsi secukupnya untuk memperhatikan batasan asupan kafein,” kata dia.

Minum kopi baiknya tidak sampai lebih dari tiga atau empat cangkir per hari.

Waspadai Kebiasaan Sering Kencing di Malam Hari

Ketika bangun untuk kencing di malam hari, sesekali mungkin ini bukan masalah yang besar. Tapi kalau terus berulang dan mengganggu tidur, Anda patut waspada.

Matthew Rutman, M.D., profesor urologi di Columbia University Medical Center menjelaskan, kebiasaan ini adalah tanda nokturia. Kondisi di mana seseorang selalu pipis di malam hari, terutama pada saat tidur.

Gangguan ini disebabkan oleh salah satu dari tiga kemungkinan penyebabnya: kandung kemih Anda mengalami kesulitan menahan air kencing, sehingga menghasilkan lebih banyak urin daripada biasanya di siang hari, atau Anda menghasilkan lebih banyak air kencing pada malam hari.

Untuk alasan yang terakhir, tandanya anda telah mengalami penuaan, menurut Dr. Rutman. Ini sangat normal.

Yang patut diwaspadai adalah nokturia yang dipicu oleh beberapa faktor lain. Berikut beberapa penyebab yang bisa menyebabkan nokturia.

1. Pembesaran kelenjar prostat
Kelenjar prostat yang membesar dapat menyebabkan tekanan pada kandung kemih, ini yang jadi alasan mengapa seseorang terus mondar mandir ke kamar mandi.

2. Diabetes
Ketika seseorang menderita diabetes, ia akan mengalami kelebihan glukosa yang mengalir pada ginjal dengan membawa debit air yang tinggi, sehingga kandung kemih akan mudah penuh. Tak heran jika kondisi ini akan membuat penderita diabetes sering merasa haus dan pipis baik di malam atau siang hari.

3. Pengaruh obat
Beberapa obat umum, termasuk Lasix dan hydrochlorothiazide, yang digunakan untuk mengobati edema (pembengkakan) dan tekanan darah tinggi, juga bisa memicu anda sering pipis di waktu tidur.

4. Gaya hidup
Kafein dan alkohol keduanya diuretik, yang meningkatkan produksi urin Anda, sehingga minum pada siang hari dapat menyebabkan buang air kecil di malam hari. Minum terlalu banyak cairan di malam hari, terlepas dari jenis apa, juga bisa menyebabkan nokturia.

Konsumsi Minuman Soda Usai Olahraga Bikin Semua Sia-Sia

Minum minuman soda setelah olahraga memang terasa puas dan menyegarkan, bukan? Jika Anda pernah mencobanya, atau bahkan sering, mungkin ini saatnya untuk berhenti melakukannya.

Ada beberapa alasan yang mendasari pernyataan ini, dan tentunya didukung oleh banyak penelitian dan bukti ilmiah yang kuat.

Minuman Bersoda

Berikut ini adalah tiga alasan mengapa sebaiknya Anda tidak mengonsumsi minuman soda saat atau setelah berolahraga:

Menurunkan performa olahraga
Mengapa bisa mengurangi performa olahraga? Bagi beberapa orang, minuman soda dapat membuat perut kembung. Jika dikonsumsi terlalu banyak dalam waktu yang singkat, jenis minuman ini dapat memproduksi gas berlebihan di lambung sehingga memicu kembung. Hal ini juga bisa terjadi walaupun dengan jumlah soda yang sedikit.

Selain membuat tidak nyaman, kondisi perut kembung juga sangat berpengaruh terhadap performa olahraga. Tidak hanya performa yang menurun, konsentrasi yang terganggu saat olahraga justru dapat membuat Anda rentan terhadap cedera.

Menambah berat badan
Olahraga memang merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk mengontrol atau menurunkan berat badan. Mengonsumsi minuman bersoda setelah berolahraga, terutama dalam jumlah besar, dapat berefek pada penambahan berat badan.

Umumnya, minuman bersoda memiliki kalori yang tinggi. Jika setelah berolahraga Anda membakar 250 kalori, dan minuman soda yang Anda minum mengandung kalori sebesar 300, manfaat yang diinginkan dari olahraga tentunya akan sia-sia belaka. Jadi, siap-siap saja terkejut dengan angka timbangan Anda!

Mengurangi kadar gula darah
Aktivitas olahraga akan membuat kadar gula darah Anda menurun. Nah, dengan mengonsumsi minuman bersoda saat atau setelah olahraga, maka gula darah Anda dapat menjadi lebih rendah, dan ini berbahaya.

Sebagian besar minuman bersoda mengandung gula yang tinggi. Ketika Anda lelah, mengonsumsi gula dalam jumlah tinggi memang bisa mengembalikan energi, tetapi ternyata efek ini hanya sementara.

Dengan peningkatan gula yang drastis dan kebutuhan energi tetap meningkat, tubuh Anda akan merespons dengan mengambil lebih banyak gula lagi. Alhasil, penyerapan gula di tubuh akan meningkat dan gula darah menjadi rendah.

Oleh karena itu, mengonsumsi air putih setelah olahraga lebih baik ketimbang minum soda. Air putih akan membuat Anda lebih berstamina untuk melanjutkan aktivitas. Dan tentunya, tidak akan menimbulkan perut kembung dan masalah kesehatan lainnya.