Pasca ‘Despacito’, Daddy Yankee Buat Viral Lagu ‘Dura’

Penyanyi Latin, Daddy Yankee kembali menyuguhkan karya musik yang mengajak pendengarnya ikut menari. Mengikuti kesuksesan ‘Despacito’, lagu berjudul ‘Dura’ itu turut menjadi salah satu musik yang viral belakangan ini.

Satu bulan pasca dirilis, jutaan orang telah mengklik video musik lagu tersebut dan terinspirasi untuk mengikuti iramanya dalam ragam tarian. Mulai dari anak-anak, model papan atas, hingga para orang tua menciptakan tarian mereka sendiri dengan iringan lagu Dura. Tak ayal, sang pencipta lagu itu pun merasa bangga dengan antusias yang ditunjukkan para pendengar musiknya.

“Saya merasa lebih dari sekadar bangga dan sangat diberkati. Kala Anda membuat musik untuk pendengar dan mereka telah membuat lagu ini dengan cara mereka sendiri,” kata Daddy Yankee kepada AFP.

Sebelum membuat hit ‘Despacito’ bersama Luis Fonsi, Daddy Yankee sendiri telah memberikan sentuhan reggae dalam musik dansa latin dan gaya hip-hop. Dia memulai itu dengan hit Gasolina pada 2004 dan menjadi pijakan kariernya secara global.

Namun, berkat lagu Dura penyanyi dan rapper berusia 41 tahun itu dianggap mendapatkan hal baru dari kariernya. Lagu tersebut mendapat sambutan luar biasa dari para fan yang menyukainya.

“Mengapa banyak orang – bahkan bayi – menyukainya? Nah, ada beberapa hal yang tidak bisa Anda jelaskan. Inilah keajaiban musik, keajaiban yang baru saja terjadi dan Anda tidak bisa mengerti,” katanya.

Lagu yang telah dirilis sejak 18 Januari silam, dikatakan pemilik nama asli Ramon Luis Ayala ini memiliki irama yang membawa nostalgia dengan sentuhan musik akhir ’80-an dan awal ’90-an.

Viralnya lagu Dura sendiri disebutkan AFP berawal dari model Kolombia Andrea Valdiri yang mengunggah sebuah video di Instagram saat dirinya menari dengan lagu itu secara sensual.

Tak lama setelah itu, unggahan Valdiri ini memicu serangkaian interpretasi dari lagu tersebut menggunakan tagar #DuraChallenge. Bahkan aksi itu diikuti seorang lansia Rachel Phillipsen, warga asal Puerto Rico yang sudah berusia 90 tahun.

Dia asyik mengikuti instruktur zumba dengan ritme yang mengesankan saat Daddy Yankee bernyanyi dalam bahasa Spanyol. Yankee sendiri merasa terpukau dengan aksinya.

“Nenek berusia 90 tahun itu fenomenal. Tidak diragukan lagi bahwa video itu memberi semangat kepada seluruh dunia,” katanya.

Sejauh ini, video musik Dura sendiri telah diputar lebih dari 200 juta kali di saluran Youtube Yankee. Sebelumnya, lagu Despacito berhasil memecahkan rekor video musik paling paling banyak ditonton di YouTube dengan lebih dari 4,8 miliar kali penayangan.

Tak lama setelah itu, unggahan Valdiri ini memicu serangkaian interpretasi dari lagu tersebut menggunakan tagar #DuraChallenge. Bahkan aksi itu diikuti seorang lansia Rachel Phillipsen, warga asal Puerto Rico yang sudah berusia 90 tahun.

Dia asyik mengikuti instruktur zumba dengan ritme yang mengesankan saat Daddy Yankee bernyanyi dalam bahasa Spanyol. Yankee sendiri merasa terpukau dengan aksinya.

“Nenek berusia 90 tahun itu fenomenal. Tidak diragukan lagi bahwa video itu memberi semangat kepada seluruh dunia,” katanya.

Sejauh ini, video musik Dura sendiri telah diputar lebih dari 200 juta kali di saluran Youtube Yankee. Sebelumnya, lagu Despacito berhasil memecahkan rekor video musik paling paling banyak ditonton di YouTube dengan lebih dari 4,8 miliar kali penayangan.

Ulasan Lengkap Film: ‘Eiffel I’m in Love 2’

Kisah cinta Adit dan Tita dalam Eiffel I’m in Love berlanjut dalam sebuah sekuel yang dirilis 14 tahun sejak film pertamanya.

Tidak banyak perkembangan, karakter Tita yang diperankan oleh Shandy Aulia masih sama dengan yang terdahulu. Ia masih menjadi sosok perempuan manja dengan sang ibu yang kelewat protektif.

Eiffel I'm in Love 2

Padahal, dalam Eiffel I’m in Love 2 usianya diceritakan sudah berusia 27 tahun. Inipun bertolak belakang dari sinopsis yang disuguhkan bahwa, “Tita yang dulunya duduk di kelas 1 SMA, sudah menjadi seorang wanita dewasa.”

Karakternya sama sekali tidak menunjukan bahwa ia telah dewasa.

Selama 14 tahun ini pula, Tita diceritakan masih menjadi kekasih Adit (Samuel Rizal) dan menjalani hubungan jarak jauh. Adit masih menetap di Paris dan Tita di Jakarta yang melanjutkan hidup sebagai dokter hewan.

Setiap harinya, hubungan mereka selalu diwarnai pertengkaran akan hal-hal yang tidak penting. Dan di usianya yang hampir 30 tahun, konflik yang dihadapi Tita adalah kegelisahan karena Adit tak kunjung melamar, sementara kedua sahabatnya, Nanda dan Uni, sudah menikah.

Cerita yang disesuaikan dengan latar waktu era saat ini terasa tidak masuk akal. Hidup Tita sebagai perempuan berusia 27 tahun masih dibayang-bayangi aturan ketat orangtuanya.

Kemanapun ia pergi, Tita masih diantar supir pribadi dan ditemani seorang asisten rumah tangga. Pulang ke rumah tidak boleh lewat dari jam delapan malam.

Bahkan di zaman yang sudah dimudahkan dengan segala kecanggihan teknologi, Tita dilarang memiliki ponsel untuk berkomunikasi. Alhasil, dia hanya mengandalkan ponsel milik asisten rumah tangga atau sahabatnya, Uni yang kini sudah menjadi kakak iparnya setiap kali menanti telepon dari Adit.

Sampai suatu waktu, Tita merasakan angin segar pada hubungannya dengan Adit. Setelah 12 tahun tidak mengunjungi Paris, Tita dan keluarga memilih untuk pergi ke sana demi mengurus restoran milik mereka dan ayah Adit.

Momen itu dianggap Tita menjadi saat yang tepat dirinya bertemu Adit dan berharap dapat segera dilamar. Lagi-lagi ada kejanggalan dalam cerita yang disuguhkan.

Dalam kurun waktu satu bulan, ayah Tita memutuskan untuk memboyong seluruh anggota keluarganya pindah ke Paris. Padahal urusan yang membuat mereka harus ke sana hanyalah mengelola bisnis restoran keluarga, yang mana itu mungkin cukup ditangani oleh orangtua Tita saja.

Hal ini kembali menunjukan seberapa protektifnya orang tua Tita pada anak-anak mereka yang sudah tumbuh dewasa hingga berkeluarga. Anak pertama dan menantunya yang sedang hamil pun diceritakan ikut pergi ke Paris tanpa penjelasan apa urgensinya.

Di sisi lain, film ini pun seolah hanya mengandalkan nilai nostalgia, tanpa banyak hal baru yang relevan. Pada beberapa momen, Eiffel I’m in Love 2 seperti memanfaatkan hal-hal ikonis dari filmnya terdahulu. Banyak pengulangan adegan lama dengan diberi sedikit modifikasi.

Sebut saja adegan kejutan di kamar Tita saat ia pertama tiba di Paris, kemudian pergi makan malam romantis, dan beberapa hal lain yang cukup mudah ditebak. Mungkin itu ditujukan sebagai obat kerinduan akan tingkah dua karakter tersebut bagi pecinta filmnya, yang sayangnya tidak terasa begitu istimewa dan bisa dilakukan dengan menonton kembali film pertamanya.

Kehadiran karakter baru yang diperankan Marthino Lio sebagai Adam pun tidak memberi banyak perubahan pada apa yang disuguhkan di sekuel film ini. Dia dikisahkan menjadi sahabat Tita selama 11 tahun dan diam-diam menaruh hati.

Film ini bisa dibilang diselamatkan oleh peran yang dimainkan Samuel Rizal atau Sammy. Karakter Adit di film ini cukup menghidupkan suasana dengan sikap dinginnya yang masih ceplas-ceplos dan memancing gelak tawa.

Selain itu, lagu tema yang mengiringi sepanjang film dan masih berada di tangan dingin Melly Goeslaw menjadi ‘juru selamat’. Lantunan lagu-lagu Melly memberi nyawa pada beberapa momen di film ini. Ditambah sinematografi yang cukup memanjakan mata.

Selebihnya, film ini gagal dengan cerita yang digarap dan dieksekusi kurang tepat.